Perempuan Tanah Jahannam

Perempuan Tanah Jahanam mengisahkan tentang Maya (Tara Basro), seorang penjaga tol yang kerap dilanda kesialan. Suatu malam saat sedang bekerja, ia diserang oleh seseorang tak dikenal. Merasa keselamatannya terancam, sejak kejadian itu, ia memutuskan untuk berbisnis bersama sahabatnya, Dini (Marissa Anita). Memiliki permasalahan ekonomi, Maya memutuskan untuk pulang ke desa asalnya, karena ia mendapatkan petunjuk bahwa keluarganya kaya raya dan meninggalkan beberapa warisan. Ditemani Dini, mereka pun pergi ke sebuah desa, tempat di mana Maya dilahirkan. Setibanya di desa itu, Maya mulai dihantui beberapa sosok anak yang sudah meninggal. Tidak hanya itu, seluruh penduduk desa ternyata mengincarnya untuk suatu rencana yang mengerikan.Suasana desa yang terpencil 
Untuk menuju desa tempat tinggal Maya sewaktu kecil, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup panjang melalui bus, di mana hanya terdapat pepohonan saja di sisi kanan dan kiri jalan. Sesampainya di terminal pun, mereka masih harus menaiki delman untuk ke tempat tujuan. Anehnya, ketika Maya mencoba bertanya kepada para kusir, hampir tidak ada yang mengetahui nama desanya. Sekalipun ada yang mengetahui lokasi desa tersebut, sang kusir memasang harga yang tinggi dengan alasan jarak tempuh yang cukup jauh dan terpencil. Benar saja, setelah melewati setangah jalan, rasanya seperti memasuki sebuah hutan belantara yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Maya dan Dini juga merasakan keanehan ketika bertemu dengan beberapa warga yang terlihat misterius dan memberikan tatapan dingin seolah ingin menyerang mereka. Tidak memiliki tempat tinggal untuk bermalam, Maya memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah besar yang diyakini merupakan rumahnya waktu kecil. Dan tanpa disadari, rumah tersebut merupakan awal malapetaka baginya.Sosok Nyi Misni yang misterius 
Bingung ingin bertemu siapa, Maya memutuskan untuk bertemu Kepala Desa, Ki Saptadi (Ario Bayu). Saat tiba di rumah Ki Saptadi, Maya dan Dini disambut oleh seorang nenek tua bernama Nyi Misni (Christine Hakim). Ia pun keluar dengan kaki pincang dan wajah sinis untuk menyambut mereka. Merasa takut dan bingung ketika ditanyai ada keperluan apa, keduanya terpaksa berbohong agar dapat bertemu dengan Ki Saptadi. Seakan tidak senang dengan Maya dan Dini, Nyi Misni memberikan tatapan serta gerak tubuh yang seolah menyiratkan sebuah penolakan. Selain tatapannya yang dingin, sosok misterius Nyi Misni semakin terlihat dan terasa berkat kebaya yang dikenakannya sebagai pakaian sehari-hari, serta logat bahasa Jawanya yang kental.

Komentar